Tuesday, January 9, 2018

CBDC – TFI
Character Building Agama

MELAKUKAN KEGIATAN – KEGIATAN KEMANUSIAAN




Judul Project
Wawancara perspektif tokoh agama tentang menjadi  pribadi yang religius –spiritual.


Identitas Kelompok

NIM
Nama
Jabatan (ketua, sekretaris, anggota)
2001603722
Jody Alvian
Ketua
2001605734
Fadhil Akbar
Anggota
2001575403
Risa Wulandari Khoirunnisa
Anggota
2001552955
Sabrina
Anggota
1701371883
Annisa Nurliani
Anggota





Kelas
LA62


BINUS UNIVERSITY
2017/2018



HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR

Project Luar Kelas Character Building Agama

 1.     Judul Proyek                             : Wawancara perspektif tokoh agama tentang menjadi  pribadi yang religius –spiritual.

2.     Lokasi Proyek                            :  Rumah Ibadah dan Tempat Tinggal Tokoh Agama

3.     Kelompok target kegiatan        :  Tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha
  
4.     Nama Anggota Kelompok       :    Jody Alvian
Fadhil Akbar
Risa Wulandari Khoirunnisa
Sabrina
Annisa Nurliani

5.    Mata Kuliah                               :  Character Building Agama
6.    Kelas                                           :  LA62
7.    Dosen                                          : Agus Masrukhin S. Th. I. MSI


Jakarta, 15 Desember 2017
Mengetahui
 Dosen Matakuliah CB Agama                                                                  Ketua Kelompok
           
           
           
           
(Agus Masrukhin S. Th. I. MSI)                                                                 (Jody Alvian)
                                                           





BAB I

I.   Latar Belakang  
Istilah spiritual merupakan kata serapan yang definisinya lebih sulit dibandingkan mendifinisikan agama/religion, dibanding dengan kata religion, para psikolog membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spitual mempunyai beberapa arti, di luar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku. kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai faktor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi.
Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) kata kerjanya “Spirare” artinya bernafas. Melihat asal katanya, untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.
Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit, sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara, Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama , tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra, perasaan, dan pikiran.
Apakah ada perbedaan antara spiritual dan religius, spiritualitas adalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang asal, tujuan dan nasib. Agama adalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek perilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman, komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran), sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (perilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas. Orang-orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama dan setiap agama memiliki prespektif yang berbeda.
Pada kesempatan ini, melalui mata pelajaran Character Building: Agama yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Nusantara, penulis mencoba untuk mengulik tema pribadi yang religius-spiritualis melalui kegiatan wawancara terhadap tiga tokoh agama dari agama yang berbeda, yaitu seorang pendeta dari agama Kristen, seorang biksu dari agama Buddha, dan seorang ustad dari agama Islam.

II.  Nama Kegiatan 
Mewawancarai para tokoh agama terkait dengan pribadi yang religius-spiritual

III. Tema Kegiatan
Tema kegiatan ini adalah pribadi yang religius-spiritual.


IV. Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan informasi penting dan berguna untuk orang awam tentang bagaimana cara menjadi pribadi yang religius-spiritual,bagaimana cara membangun relasi yang baik dengan Tuhan ,bagaimana cara mencintai Tuhan,. Pembaca diharapkan mampu memahami berbagai perspektif positif yang dituturkan oleh para narasumber guna membuka pemikiran mereka tentang permasalahan yang sedang terjadi ini.

V.  Sasaran
Tokoh Agama Islam, Kristen, dan Buddha.




BAB II


A.    Metode Kegiatan
Metode kegiatan yang kami gunakan adalah dengan cara mewawancarai tokoh agama. Adapun kegiatan sebelum melakukan wawancara, yaitu:
-          Menentukan agama apa saja yang akan kami pilih sebagai narasumber.
-          Survey tempat.
-          Menghubungi tokoh-tokoh agama yang kami pilih sebagai narasumber.
-          Mencari waktu yang tepat untuk mewawancarai para tokoh – tokoh agama.
-          Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara.
-          Mengunjungi tempat dilakukannya wawancara.

BAB III

A.    Konsep
Pada dasarnya spiritual mempunyai beberapa arti, diluar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit tingkah laku. Kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai factor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi,Menurut kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti bernafas.
Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit ,sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara, Pihak lain mengatakan bahwa aspek spiritual memiliki dua proses,pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan,kedua proses kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal.
Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri,  Apakah ada perbedaan antara spiritual dan religius? Spiritualitas adalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang asal , tujuan dan nasib. Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek perilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman ,komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) , sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (perilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas sementara spiritualisme adalah hal- hal yg muncul dalam pikiran dan hatinya yang mampu mendorong manusia itu mau melakukan hal-hal yg diyakininya pada tingkat atau level yang bisa dicapainya.
Perbedaan antara Spiritual dan agama adalah kalau Spiritual menyangkut kerohanian sedang agama menyangkut keyakinan. Spiritualisme berarti faham yang mengedepankan rohani ( kerohanian ) seseorang atau kelompok yang sepaham.Sedangkan agama itu hasil kepercayaan / keyakinan dalam hati berbentuk ibadat karena keyakinannya itu.Spiritualisme adalah sifat religius sedangkan agama adalah wadahnya.
Orang – orang dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama. Oleh  karena itu kita sebagai anak muda harus membangun spiritualitas religius agar nantinya menjadi pribadi yang religius-spiritual yang akan menumbuhkan kepribadian yang baik.

B.     Solusi
Kami akan mencari tahu lebih lanjut mengenai seperti apa sosok pribadi yang religius-spiritual, apa saja faktor yang menentukan seseorang memiliki pribadi religius-spiritual, tanggapan kepada seseorang yang mengaku religius namun tidak spiritual, dan alasan mencintai diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Hal ini akan kami lakukan dengan cara bertanya langsung kepada para tokoh agama dan meminta pendapat mereka mengenai hal tersebut.





BAB IV


I.        Pelaksanaan Acara
A.    Deskripsi Kegiatan
Melakukan wawancara yang dilakukan di tempat ibadah dan di rumah tokoh agama.

B.     Mekanisme Kegiatan
Dalam kegiatan ini kami bertanya mengenai :
·           Menurut Anda, bagaimana sosok pribadi yang religius-spiritual?
·           Bagaimana kita megetahui seseorang itu beriman?
·           Menurut Anda, seberapa penting rasa cinta pada diri sendiri maupun sesama?
·           Bagaimana cara menganggapi seseorang yang religius akan tetapi kurang cinta terhadap alam lingkungan?
·           Mengapa mencintai diri sendiri, sesama dan lingkungan diperlukan untuk mejadi seseorang yang spiritual?

II.        Waktu, Tanggal dan Tempat
Hari, Tanggal
Waktu
Tempat
Jumat, 8 Desember 2017
15.00 – 15.30
Rumah Ustadz Mulyadi
Minggu, 10 Desember 2017
15.00 – 15.30
Griya Anugrah Sekretariat GKI Gading Serpong
Jumat, 5 Januari 2018
12.30 – 13.00     
Universitas Bina Nusantara Kampus Syahdan Ruang K3A-B

III.        Susunan Kepanitiaan 
NIM
Nama
Jabatan (ketua, sekretaris, anggota)
2001603722
Jody Alvian
Ketua
2001605734
Fadhil Akbar
Anggota
2001575403
Risa Wulandari Khoirunnisa
Anggota
2001552955
Sabrina
Anggota
1701371883
Annisa Nurliani
Anggota




IV.        Susunan Kegiatan
Kegiatan
Hari, Tanggal
Waktu
Tempat
Menentukan Tokoh Agama
Rabu, 29 November 2017
15.00 – 15.20
Universitas Bina Nusantara Kampus Anggrek
Wawancara
Jumat, 8 Desember 2017
15.00 – 15.30
Rumah Ustadz Mulyadi
Wawancara
Minggu, 10 Desember 2017
15.00 – 15.30
Griya Anugrah Sekretariat GKI Gading Serpong
Wawancara
Jumat, 5 Januari 2018
12.30 – 13.00     
Universitas Bina Nusantara Kampus Syahdan Ruang K3A-B
Membuat Laporan
Senin, 8 Januari 2018
11.00 – 12.00
Universitas Bina Nusantara Kampus Kijang

V.            Lampiran Foto






BAB V

A.    Kesimpulan
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mencari tahu lebih jauh mengenai sosok pribadi yang religius dan spiritual, faktor yang menentukan dan alasannya, dan juga tanggapan kepada orang yang mengaku religius namun tindakannya tidak sesuai dengan religius-spiritual. Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari, yang dimulai pada tanggal 29 November 2017. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang tema yang kami pilih, dan juga kami berharap dengan adanya kegiatan keagamaan ini, kami dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai pribadi yang religius-spiritual, beserta detil-detil dan juga sikap apa yang kita lakukan ketika menemui seseorang yang tidak religius-spiritual. Dan setelah kami memperoleh informasi tersebut, kami juga berharap dapat menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat agar dapat lebih mencintai diri, sesama, dan juga lingkungan yang mana merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

B.   Refleksi
Kami melakukan kegiatan keagamaan ini dengan tema pribadi yang religius-spiritual karena kami ingin mengetahui bagaimana pendapat tiap-tiap tokoh agama yang kami wawancari terkait dengan tema tersebut, dan kami berharap dengan informasi yang kami peroleh, kami dapat menyebarkan informasi tersebut kepada masyarakat, agar masyarakat dapat membedakan mana yang merupakan pribadi yang religius-spiritual dan mana yang bukan. Serta mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan orang yang mengaku religius namun sikapnya tidak sesuai dengan pribadi religius yang sebenarnya.

Kami juga sadar bahwa mencintai diri sendiri, mencintai sesama, dan mencintai lingkungan merupakan hal yang menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang religius-spiritual, karena diri kita sendiri, sesama kaum manusia, tumbuhan dan binatang, serta alam semesta adalah cipataan Tuhan Yang Maha Esa. Apabila ada seseorang yang mengaku dirinya pribadi yang religius, namun sikapnya tidak mencerminkan apa yang ia katakan, sikap kita adalah mengingatkan orang tersebut, namun jika orang tersebut tidak mendengar nasihat kita, lebih baik kita diamkan saja dan menunggu orang tersebut sadar dengan sendirinya.