CBDC – TFI
Character Building Agama
MELAKUKAN KEGIATAN
– KEGIATAN KEMANUSIAAN
Judul Project
Wawancara
perspektif tokoh agama tentang menjadi
pribadi yang religius –spiritual.
Identitas Kelompok
|
NIM
|
Nama
|
Jabatan (ketua, sekretaris, anggota)
|
|
2001603722
|
Jody Alvian
|
Ketua
|
|
2001605734
|
Fadhil Akbar
|
Anggota
|
|
2001575403
|
Risa Wulandari
Khoirunnisa
|
Anggota
|
|
2001552955
|
Sabrina
|
Anggota
|
|
1701371883
|
Annisa Nurliani
|
Anggota
|
|
Kelas
|
LA62
|
BINUS UNIVERSITY
2017/2018
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR
Project Luar Kelas Character Building Agama
1. Judul Proyek : Wawancara perspektif
tokoh agama tentang menjadi pribadi yang
religius –spiritual.
2. Lokasi Proyek : Rumah Ibadah dan Tempat Tinggal Tokoh Agama
3. Kelompok target kegiatan : Tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha
4. Nama Anggota Kelompok : Jody Alvian
Fadhil Akbar
Risa Wulandari Khoirunnisa
Sabrina
Annisa Nurliani
Fadhil Akbar
Risa Wulandari Khoirunnisa
Sabrina
Annisa Nurliani
5.
Mata Kuliah : Character Building Agama
6.
Kelas : LA62
7.
Dosen : Agus Masrukhin S. Th. I. MSI
Jakarta, 15
Desember 2017
Mengetahui、
Dosen
Matakuliah CB Agama Ketua Kelompok
(Agus
Masrukhin S. Th. I. MSI) (Jody Alvian)
BAB I
I. Latar Belakang
Istilah
spiritual merupakan kata serapan yang definisinya lebih sulit dibandingkan
mendifinisikan agama/religion, dibanding dengan kata religion, para psikolog
membuat beberapa definisi spiritual, pada dasarnya spitual mempunyai beberapa
arti, di luar dari konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit
atau menunjukan spirit tingkah laku. kebanyakan spirit selalu dihubungkan
sebagai faktor kepribadian. Secara pokok spirit merupakan energi baik secara
fisik dan psikologi.
Menurut kamus
Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin ‘Spiritus” yang
berarti nafas (breath) kata kerjanya “Spirare” artinya bernafas. Melihat asal
katanya, untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki
spirit. Menjadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih kepada hal yang
bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau
material. Spiritual merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai
makna hidup dan tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari
keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang.
Spiritual
dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit, sesuatu
yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan dengan tujuan
hidup manusia, sering dibandingkan dengan Sesuatu yang bersifat duniawi, dan
sementara, Didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan
supernatural seperti dalam agama , tetapi memiliki penekanan terhadap
pengalaman pribadi. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adlah memiliki arah
tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan dan kekuatan
berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang lebih dekat dengan ketuhanan
dan alam semesta dan menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari
alat indra, perasaan, dan pikiran.
Apakah ada
perbedaan antara spiritual dan religius, spiritualitas adalah kesadaran diri
dan kesadaran individu tentang asal, tujuan dan nasib. Agama adalah kebenaran
mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama
merupakan praktek perilaku tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang
dinyatakan oleh institusi tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang
dinyatakan oleh institusi tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama
memiliki kesaksian iman, komunitas dan kode etik, dengan kata lain spiritual
memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran),
sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang
(perilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu , namun
memiliki spiritualitas. Orang-orang dapat menganut agama yang sama, namun belum
tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama dan setiap
agama memiliki prespektif yang berbeda.
Pada
kesempatan ini, melalui mata pelajaran Character Building: Agama yang
diselenggarakan oleh Universitas Bina Nusantara, penulis mencoba untuk mengulik
tema pribadi yang religius-spiritualis melalui kegiatan wawancara terhadap tiga
tokoh agama dari agama yang berbeda, yaitu seorang pendeta dari agama Kristen,
seorang biksu dari agama Buddha, dan seorang ustad dari agama Islam.
II. Nama Kegiatan
Mewawancarai para
tokoh agama terkait dengan pribadi yang religius-spiritual
III. Tema Kegiatan
Tema kegiatan ini
adalah pribadi yang religius-spiritual.
IV. Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan
informasi penting dan berguna untuk orang awam tentang bagaimana cara menjadi
pribadi yang religius-spiritual,bagaimana cara membangun relasi yang baik
dengan Tuhan ,bagaimana cara mencintai Tuhan,. Pembaca diharapkan mampu
memahami berbagai perspektif positif yang dituturkan oleh para narasumber guna
membuka pemikiran mereka tentang permasalahan yang sedang terjadi ini.
V.
Sasaran
Tokoh Agama Islam,
Kristen, dan Buddha.
BAB II
A. Metode Kegiatan
Metode kegiatan yang kami gunakan adalah
dengan cara mewawancarai tokoh agama. Adapun kegiatan sebelum melakukan
wawancara, yaitu:
-
Menentukan agama
apa saja yang akan kami pilih sebagai narasumber.
-
Survey tempat.
-
Menghubungi
tokoh-tokoh agama yang kami pilih sebagai narasumber.
-
Mencari waktu yang
tepat untuk mewawancarai para tokoh – tokoh agama.
-
Membuat daftar
pertanyaan untuk wawancara.
-
Mengunjungi tempat
dilakukannya wawancara.
BAB III
A. Konsep
Pada dasarnya spiritual mempunyai beberapa arti, diluar dari
konsep agama, kita berbicara masalah orang dengan spirit atau menunjukan spirit
tingkah laku. Kebanyakan spirit selalu dihubungkan sebagai factor kepribadian.
Secara pokok spirit merupakan energi baik secara fisik dan psikologi,Menurut
kamus Webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasa latin
‘Spiritus” yang berarti nafas (breath) dan kata kerja “Spirare” yang berarti
bernafas.
Spiritual dalam pengertian luas merupakan hal yang
berhubungan dengan spirit ,sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi
yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan
sesuatu yang bersifat duniawi, dan sementara, Pihak lain mengatakan bahwa aspek
spiritual memiliki dua proses,pertama proses keatas yang merupakan tumbuhnya
kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan,kedua proses
kebawah yang ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat
perubahan internal.
Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang
dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ketuhanan didalam akan
termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri, Apakah ada perbedaan antara spiritual dan
religius? Spiritualitas adalah kesadaran diri dan kesadaran individu tentang
asal , tujuan dan nasib. Agama ádalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang
memiliki manifestasi fisik diatas dunia. Agama merupakan praktek perilaku
tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi
tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan oleh institusi tertentu
yang dianut oleh anggota-anggotanya. Agama memiliki kesaksian iman ,komunitas
dan kode etik, dengan kata lain spiritual memberikan jawaban siapa dan apa
seseorang itu (keberadaan dan kesadaran) , sedangkan agama memberikan jawaban
apa yang harus dikerjakan seseorang (perilaku atau tindakan). Seseorang bisa
saja mengikuti agama tertentu , namun memiliki spiritualitas sementara
spiritualisme adalah hal- hal yg muncul dalam pikiran dan hatinya yang mampu
mendorong manusia itu mau melakukan hal-hal yg diyakininya pada tingkat atau
level yang bisa dicapainya.
Perbedaan antara Spiritual dan agama adalah kalau Spiritual
menyangkut kerohanian sedang agama menyangkut keyakinan. Spiritualisme berarti
faham yang mengedepankan rohani ( kerohanian ) seseorang atau kelompok yang
sepaham.Sedangkan agama itu hasil kepercayaan / keyakinan dalam hati berbentuk
ibadat karena keyakinannya itu.Spiritualisme adalah sifat religius sedangkan
agama adalah wadahnya.
Orang – orang dapat menganut agama yang sama, namun belum
tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama. Oleh karena itu kita sebagai anak muda harus
membangun spiritualitas religius agar nantinya menjadi pribadi yang
religius-spiritual yang akan menumbuhkan kepribadian yang baik.
B. Solusi
Kami akan mencari tahu lebih lanjut mengenai seperti apa
sosok pribadi yang religius-spiritual, apa saja faktor yang menentukan
seseorang memiliki pribadi religius-spiritual, tanggapan kepada seseorang yang
mengaku religius namun tidak spiritual, dan alasan mencintai diri sendiri,
sesama, dan lingkungan. Hal ini akan kami lakukan dengan cara bertanya langsung
kepada para tokoh agama dan meminta pendapat mereka mengenai hal tersebut.
BAB IV
I.
Pelaksanaan Acara
A. Deskripsi Kegiatan
Melakukan wawancara yang dilakukan di
tempat ibadah dan di rumah tokoh agama.
B. Mekanisme Kegiatan
Dalam kegiatan ini
kami bertanya mengenai :
·
Menurut Anda, bagaimana
sosok pribadi yang religius-spiritual?
·
Bagaimana kita
megetahui seseorang itu beriman?
·
Menurut Anda,
seberapa penting rasa cinta pada diri sendiri maupun sesama?
·
Bagaimana cara menganggapi
seseorang yang religius akan tetapi kurang cinta terhadap alam lingkungan?
·
Mengapa mencintai
diri sendiri, sesama dan lingkungan diperlukan untuk mejadi seseorang yang
spiritual?
II.
Waktu, Tanggal dan Tempat
|
Hari,
Tanggal
|
Waktu
|
Tempat
|
|
Jumat, 8
Desember 2017
|
15.00 –
15.30
|
Rumah Ustadz
Mulyadi
|
|
Minggu, 10
Desember 2017
|
15.00 –
15.30
|
Griya Anugrah Sekretariat GKI
Gading Serpong
|
|
Jumat, 5
Januari 2018
|
12.30 –
13.00
|
Universitas
Bina Nusantara Kampus Syahdan Ruang K3A-B
|
III.
Susunan Kepanitiaan
|
NIM
|
Nama
|
Jabatan (ketua, sekretaris, anggota)
|
|
2001603722
|
Jody Alvian
|
Ketua
|
|
2001605734
|
Fadhil Akbar
|
Anggota
|
|
2001575403
|
Risa Wulandari
Khoirunnisa
|
Anggota
|
|
2001552955
|
Sabrina
|
Anggota
|
|
1701371883
|
Annisa Nurliani
|
Anggota
|
IV.
Susunan Kegiatan
|
Kegiatan
|
Hari,
Tanggal
|
Waktu
|
Tempat
|
|
Menentukan
Tokoh Agama
|
Rabu, 29
November 2017
|
15.00 –
15.20
|
Universitas
Bina Nusantara Kampus Anggrek
|
|
Wawancara
|
Jumat, 8
Desember 2017
|
15.00 –
15.30
|
Rumah Ustadz
Mulyadi
|
|
Wawancara
|
Minggu, 10
Desember 2017
|
15.00 –
15.30
|
Griya Anugrah Sekretariat GKI
Gading Serpong
|
|
Wawancara
|
Jumat, 5
Januari 2018
|
12.30 –
13.00
|
Universitas
Bina Nusantara Kampus Syahdan Ruang K3A-B
|
|
Membuat
Laporan
|
Senin, 8
Januari 2018
|
11.00 –
12.00
|
Universitas Bina
Nusantara Kampus Kijang
|
V.
Lampiran Foto
BAB V
A.
Kesimpulan
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mencari tahu lebih jauh
mengenai sosok pribadi yang religius dan spiritual, faktor yang menentukan dan
alasannya, dan juga tanggapan kepada orang yang mengaku religius namun
tindakannya tidak sesuai dengan religius-spiritual. Kegiatan ini berlangsung
selama 5 hari, yang dimulai pada tanggal 29 November 2017. Kegiatan ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang tema yang kami pilih, dan juga kami
berharap dengan adanya kegiatan keagamaan ini, kami dapat memperoleh informasi
lebih lanjut mengenai pribadi yang religius-spiritual, beserta detil-detil dan
juga sikap apa yang kita lakukan ketika menemui seseorang yang tidak
religius-spiritual. Dan setelah kami memperoleh informasi tersebut, kami juga
berharap dapat menyebarkan informasi tersebut ke masyarakat agar dapat lebih
mencintai diri, sesama, dan juga lingkungan yang mana merupakan ciptaan Tuhan
Yang Maha Esa.
B. Refleksi
Kami melakukan kegiatan keagamaan ini dengan tema pribadi
yang religius-spiritual karena kami ingin mengetahui bagaimana pendapat
tiap-tiap tokoh agama yang kami wawancari terkait dengan tema tersebut, dan
kami berharap dengan informasi yang kami peroleh, kami dapat menyebarkan
informasi tersebut kepada masyarakat, agar masyarakat dapat membedakan mana
yang merupakan pribadi yang religius-spiritual dan mana yang bukan. Serta
mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan orang yang
mengaku religius namun sikapnya tidak sesuai dengan pribadi religius yang
sebenarnya.
Kami juga sadar bahwa mencintai diri sendiri, mencintai
sesama, dan mencintai lingkungan merupakan hal yang menunjukkan bahwa kita
adalah pribadi yang religius-spiritual, karena diri kita sendiri, sesama kaum
manusia, tumbuhan dan binatang, serta alam semesta adalah cipataan Tuhan Yang
Maha Esa. Apabila ada seseorang yang mengaku dirinya pribadi yang religius,
namun sikapnya tidak mencerminkan apa yang ia katakan, sikap kita adalah
mengingatkan orang tersebut, namun jika orang tersebut tidak mendengar nasihat
kita, lebih baik kita diamkan saja dan menunggu orang tersebut sadar dengan
sendirinya.

No comments:
Post a Comment